banner 728x250

Longsor Kalialang: Alarm Bahaya dari Perut Gunungpati, Ketika Alam Melawan Keserakahan

  • Bagikan
banner 468x60

 

Semarang – lensaindependent.com

Example 300x600

Langit di atas Gunungpati, Selasa (11/11/2025), tampak kelabu sejak pagi. Hujan yang turun sejak siang hari tak kunjung reda hingga sore, menetes deras di antara lereng-lereng tanah yang sudah tak lagi kokoh. Di Kalialang, Kelurahan Sukorejo, deru mesin tambang yang biasanya memecah keheningan mendadak berhenti. Tak lama berselang, tebing tanah besar di sisi area galian itu ambrol dengan suara menggelegar. Tanah bercampur batu dan lumpur meluncur deras, menimbun beberapa armada truk tambang yang terparkir tak jauh dari lokasi kerja.

Video amatir berdurasi singkat yang beredar di media sosial memperlihatkan betapa dahsyatnya peristiwa itu. Tanah longsoran menutupi sebagian besar area galian, meninggalkan pemandangan pilu: truk-truk tambang terjebak di bawah timbunan tanah merah, sementara beberapa pekerja tampak berlarian menyelamatkan diri. Tidak ada laporan resmi mengenai korban jiwa, namun kerugian material diyakini cukup besar. Lebih dari sekadar kehilangan aset, kejadian ini menyisakan pertanyaan panjang: sampai kapan Gunungpati harus menanggung luka akibat kerakusan manusia?

Ketika Gunung yang Tenang Mulai Menangis

Gunungpati sejatinya adalah kawasan hijau di selatan Semarang, yang dahulu dikenal dengan udara sejuk dan pemandangan asri. Namun, seiring meningkatnya aktivitas penambangan bahan galian C di beberapa titik seperti Kalialang, lanskap alam itu mulai berubah. Bukit-bukit yang dulunya hijau kini menjadi dinding-dinding tanah terjal yang gundul. Dari kejauhan, tampak luka-luka besar menganga di tubuh gunung — bekas galian yang seolah tak pernah berhenti dikeruk.

“Kalau hujan seperti ini, kami tidak tenang. Takut longsor susulan. Setiap kali lihat bukit itu, rasanya ngeri,” tutur Sulastri, warga Sukorejo, dengan wajah khawatir. Ia sudah bertahun-tahun hidup berdampingan dengan aktivitas tambang, merasakan langsung dampaknya: udara berdebu, jalan rusak, air sumur mulai keruh, dan kini ancaman longsor yang nyata di depan mata.

Sulastri bukan satu-satunya. Warga Kalipancur, Sukorejo, hingga seputaran jalur tambang mengaku sudah lelah mengadu. Debu beterbangan di musim kemarau membuat napas sesak, sementara saat hujan, jalan berubah jadi lumpur licin. Truk-truk tambang berbobot puluhan ton lewat tanpa henti, meninggalkan aspal bergelombang dan lubang-lubang besar yang berbahaya bagi pengendara motor.

Antara Bisnis, Izin, dan Pengawasan yang Kabur

Ironisnya, meski keresahan warga sudah lama terdengar, aktivitas tambang tetap berjalan seperti biasa. Pemerintah daerah seakan menutup mata terhadap kerusakan yang tampak jelas. Tidak ada papan informasi yang menjelaskan siapa pemilik lahan, bagaimana perizinannya, atau sejauh mana aktivitas itu legal.

“Setiap kali ada pertanyaan tentang izin, jawabannya selalu tidak jelas. Ada yang bilang legal, ada yang bilang belum beres. Tapi yang pasti, tambangnya tetap jalan,” ujar Eko, warga Kalipancur yang kerap melintas di jalur tersebut.

Kenyataan ini menambah kuat dugaan bahwa di balik industri tambang lokal, ada rantai kepentingan yang rumit — antara pemilik modal, birokrasi, dan lemahnya pengawasan lapangan. Ketika keuntungan jangka pendek diutamakan, keselamatan dan keseimbangan ekologis menjadi korban.

Longsor di Kalialang bukan sekadar peristiwa alam yang kebetulan terjadi. Ia adalah konsekuensi logis dari eksploitasi yang berlebihan dan kebijakan yang abai. Alam yang terus digali tanpa pemulihan akhirnya memberi peringatan keras: tubuh bumi punya batas daya tahan.

Ketika Diam Sama dengan Bersalah

Kini, tanah di Kalialang masih lembek dan berbahaya. Warga di sekitar lokasi memilih berjaga-jaga, khawatir longsor susulan terjadi. Di sisi lain, truk-truk tambang yang sempat berhenti mulai kembali beroperasi di jalur lain, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Fenomena ini memperlihatkan betapa lemahnya empati dan tanggung jawab ekologis di tengah arus ekonomi tambang. Pemerintah Kota Semarang diharapkan tidak hanya turun tangan setelah bencana terjadi, tetapi melakukan langkah nyata: evaluasi menyeluruh izin tambang, penindakan tegas terhadap pelanggaran lingkungan, dan pemulihan kawasan yang rusak.

Gunungpati hari ini sedang berbicara. Longsor di Kalialang bukan hanya guguran tanah, tapi gugatan moral terhadap manusia yang terlalu lama memunggungi alam.

Jika peringatan ini kembali diabaikan, maka bukan tidak mungkin — di masa mendatang — bumi akan menagih dengan cara yang lebih keras.
Sebab ketika alam sudah berbicara lewat bencana, diam berarti ikut bersalah.

Red tim

banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!