Daycare—lensaindependent.com tempat yang harusnya jadi “rumah kedua” bagi anak-anak—berubah jadi ruang uji batas kemanusiaan. Orang tua datang membawa kepercayaan. Mereka pulang membawa luka.
Dan sekarang faktanya makin terang, makin menampar.
Daycare Little Aresha di Sorosutan, Yogyakarta—yang dari luar tampak “aman”—ternyata menyimpan praktik yang bahkan sulit dicerna akal sehat. Penggerebekan polisi pada Jumat (24/4/2026) bukan muncul dari sistem yang bekerja baik, tapi dari satu hal sederhana: nurani seorang karyawan baru yang masih hidup.
Bayangkan…
103 anak tercatat sebagai korban. 53 di antaranya mengalami kekerasan fisik, bukan luka kecil, tapi sampai lebam.
Dan kondisi di dalam?
Anak-anak ditidurkan di lantai. Tanpa baju. Tanpa bantal. Tangan dan kaki diikat.
Lebih parah lagi, tempat ini disebut beroperasi tanpa izin resmi. Artinya? Bahkan dari awal pun, fondasinya sudah bermasalah. Tapi tetap berjalan. Tetap menerima anak-anak. Tetap menghasilkan uang.
Jadi ini bukan sekadar kelalaian. Ini kombinasi antara keserakahan, pembiaran, dan… kosongnya rasa kemanusiaan.
Salah satu ibu, Khairunisa, datang menjemput anaknya tanpa tahu bahwa hari itu hidupnya akan berubah. Ia mendapati bayinya—baru 1,5 tahun—dalam kondisi yang tak manusiawi. Bahkan ada dugaan makanan anak-anak justru dimakan oleh pengasuh.
Iya, anak dititipkan untuk dirawat… tapi yang terjadi malah “diperas”—haknya diambil, tubuhnya disakiti, suaranya dibungkam.
Masih ada yang mau bilang ini “oknum”?
Dengan jumlah korban sebanyak itu? Dengan pola sejelas itu?
Ini bukan oknum. Ini sistem yang dibiarkan berjalan.
Dan yang paling menyakitkan: semua ini terjadi di tempat yang seharusnya paling aman setelah rumah.
Puluhan orang tua kini berdiri di Polresta Yogyakarta. Mereka tidak datang untuk drama. Mereka datang membawa kemarahan yang sah. Mereka menuntut satu hal yang sangat masuk akal: keadilan.
Dan kali ini, publik tidak butuh klarifikasi panjang. Tidak butuh permintaan maaf yang dibungkus air mata. Yang dibutuhkan sederhana: Proses hukum. Tegas. Transparan. Tanpa kompromi.
Karena kalau 103 anak saja belum cukup membuat sistem bergerak cepat dan serius, lalu sebenarnya kita ini sedang melindungi siapa?
Ini bukan sekadar berita. Ini alarm keras.
Bahwa di balik tempat-tempat yang terlihat “aman”, bisa saja tersembunyi praktik yang bahkan tak layak disebut manusiawi.
Kalau melihat, curiga, atau mendengar hal serupa—jangan diam. Laporkan. Suarakan.
Karena saat anak-anak menjadi korban, diam bukan netral. Diam adalah bagian dari masalah.
Red tim



















