Semarang – lensaindependent.com.
Fenomena perundungan (bullying) di sekolah kembali menjadi sorotan setelah sejumlah kasus viral memperlihatkan betapa mudahnya anak-anak melakukan kekerasan terhadap sesama. Sayangnya, penanganan masalah ini sering kali berhenti di ruang sekolah tanpa menembus akar persoalan di rumah — tempat di mana karakter dan empati seharusnya dibentuk sejak dini.
Hasil penelusuran dan investigasi redaksi matadunia.co.id bersama lensaindependent.com menunjukkan bahwa sebagian besar kasus perundungan justru berawal dari lemahnya pengawasan dan pendidikan emosional di keluarga. Banyak anak dibesarkan dalam situasi penuh tekanan, tanpa komunikasi yang hangat, bahkan tak jarang menyaksikan kekerasan verbal di rumahnya sendiri.
Direktur utama Pt Wijaya Official Grup juga dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Malahayati, Wahyu Wijaya, menegaskan bahwa bullying bukan sekadar kesalahan siswa di sekolah, melainkan cerminan dari pola asuh dan sistem nilai di rumah.
> “Anak-anak itu cermin dari apa yang mereka lihat dan dengar setiap hari. Kalau di rumah mereka terbiasa melihat bentakan, hinaan, atau kekerasan, maka itulah bahasa yang mereka bawa ke sekolah,” ujar Wahyu saat ditemui tim redaksi di Semarang, Jumat (31/10/2025).
Menurutnya, tanggung jawab moral dalam pencegahan bullying bukan hanya milik sekolah, melainkan juga orang tua yang harus hadir sebagai pendidik pertama dan utama.
> “Sekolah bisa memberi pelajaran, tapi rumah memberi dasar karakter. Kalau keluarga gagal menanamkan empati dan tanggung jawab, maka anak akan tumbuh tanpa arah moral yang jelas,” tegasnya.
Melalui LBH Malahayati, Wahyu turut mendorong masyarakat untuk memahami bahwa tindakan perundungan bukan persoalan sepele. Selain menimbulkan dampak psikologis panjang bagi korban, bullying juga dapat merusak masa depan pelaku itu sendiri.
> “Kita tidak hanya bicara soal hukum, tapi juga kesadaran sosial. Bullying menghancurkan dua pihak sekaligus — korban kehilangan rasa percaya diri, pelaku kehilangan arah moral,” jelasnya.
Ia juga menyoroti fenomena cyberbullying yang kini semakin meluas. Di era digital, banyak anak menggunakan media sosial tanpa bimbingan dan pengawasan yang memadai dari orang tua.
> “Anak-anak sekarang hidup di dua dunia — nyata dan digital. Kalau orang tua tidak hadir di keduanya, maka ruang pendidikan moral itu kosong. Di sanalah potensi perundungan tumbuh,” tambahnya.
Dalam pandangan Wahyu, persoalan bullying bukan hanya masalah individu anak-anak, tetapi juga refleksi dari kegagalan kolektif antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam menanamkan nilai empati. Ia menegaskan pentingnya keteladanan, komunikasi terbuka, serta sinergi antara pihak sekolah dan orang tua.
> “Anak tidak lahir dengan sifat kejam. Mereka belajar dari lingkungan. Kalau rumah gagal menjadi tempat yang aman, maka sekolah akan menjadi tempat anak mencari pengakuan — kadang dengan cara yang salah,” pungkasnya.
Melalui LBH Malahayati, pihaknya berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan hukum dan edukasi sosial bagi masyarakat agar fenomena bullying tidak lagi dianggap hal biasa.
( Red tim )



















