Semarang -lensaindependent.com Dalam Rangka Program Pengabdian Kepada Masyarakat, Tim Akademisi dari Universitas Semarang (USM) hadirkan terobosan dengan acara Pemberdayaan masyarakat Dalam Pengelolaan Limbah Rumah Tangga Mandiri Melalui Program Bank Sampah pada Kelompok PKK RT 08 RW 06 Kelurahan Tlogosari Kulon Kota Semarang bertempat di Jalin Kasih Cafe dan Resto Jl. Satrio Wibowo 1 Tlogosari Semarang, Rabu 12/11/2025.
Ketua tim pengabdian Ibu Martha Kurnia Asih, S.Psi., M.Si (Universitas Semarang) menyampaikan bahwa Pemberdayaan Masyarakat dalam mengelola limbah sampah rumah tangga yang dilakukan secara mandiri akhir-akhir ini sedang digalakan, diharapkan untuk kegiatan-kegiatan seperti sosialisasi pengolahan sampah atau komposing bisa mengurangi pembuangan sampah terlebih di kota Semarang.
Acara Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengelolaan Limbah Rumah Tangga Mandiri ini di hadiri sekitar kurang lebih 30 orang. Mereka merupakan Kelompok PKK RT 08 RW 06 Kelurahan Tlogosari Kulon, imbuhnya.
Sosialisasi dan edukasi ini, warga diajarkan bagaimana pilah sampah yang benar, kemudian diajarkan berkaitan dengan mengolah sampah organik dengan melakukan komposing dengan menghasilkan kompos cair padat untuk digunakan dilingkungan sekitar, kata ibu Martha.
Ibu Martha berharap tidak hanya sekedar sosialisasi saja tetapi bisa ditindaklanjuti apa ilmu yang sudah didapat bisa dipraktekkan sehingga bisa betul-betul meminimalkan pembuangan limbah sampah terlebih di RT 08 RW 06 Kelurahan Tlogosari Kulon.
Anggota Tim Pengabdian Kepada Masyarakat dari Universitas Semarang antara lain Ibu Sri Widyawati, S.Psi., M.Si., Psikolog ( Anggota 1) dan Ibu Surjawati SE.MM, Akt (Anggota 2). Acara ini juga dibantu oleh dua Mahasiswa dari Universitas Semarang, Amalia Putri Anjani (Fakultas Ekonomi) dan Arlingga Fahma (Fakultas Ekonomi).
Sebagai informasi, program ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Mayarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun Pendanaan 2025.
Sementara itu Sony Idtriagus, Ketua RT 08 RT 06 Kelurahan Tlogosari Kulon kepada awak media menyampaikan terima kasihnya kepada Dikti dan Universitas Semarang yang telah mengadakan sosialisasi tentang pengolahan sampah, tentang komposing sehingga menambah ilmu bagi warganya terutama Kelompok PKK sehingga kedepannya bisa mengurangi yaitu pembuangan sampah dan juga pemanfaatan sampah untuk menjadi kompos. Semoga sosialisasi ini berguna bagi warga RT 08 RT 06, terutama buat penghijauan dari komposter yang sudah jadi, katanya.
Dengan kegiatan ini banyak warganya yang tertarik dan semangat karena menambah ilmu, semoga kedepannya tambah bermanfaat untuk lingkungan sekitar, kata Sony.
Dalam acara Sosialisasi ini dihadirkan dua Narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, hadir pengisi sesi pertama Bapak Alridho Deska Briandoko, SH, M.Psi., C.GRCM tentang Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Sampah Kota Semarang. Sedangkan di sesi kedua disampaikan oleh Bapak Laurensius Luky Prasetya, S.TP., M.Pi, tentang Proses Pembuatan Pupuk Organik (Kompos).
Sampah merupakan salah satu permasalah yang utama di perkotaan, karena berbagai faktor yang mempengaruhi jumlah dan jenis sampah yang dihasilkan. Beberapa faktor tersebut meliputi pertumbuhan penduduk dan urbanisasi yang cepat, kebiasaan masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungan, dan sistem pengeloaan yang tidak efisien. Dampak negatif dari sampah di perkotaan mencakup pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan masyarakat, dan banjir.
Untuk menumbuhkan kesadaran dalam mengelola sampah rumah tangga, perlu adanya inisntif yang bermanfaat secara langsung bagi masyarakat. Bank sampah yang diterapkan di sejumlah daerah merupakan salah satu bentuk manfaat langsung yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada program pemerintah semata. Masyarakat dan sekitar juga dapat terlibat menjadi aktor penting dalam menangani sampah agar tidak terbuang begitu saja sehingga sampah dapat lebih dioptimalkan pemanfaatannya. Selain membuang sampah pada tempatnya, publik juga dapat berperan lebih optimal lagi dalam proses daur ulang sampah. Salah satunya dengan memilah, mengumpulkan, dan menanfaatkan kembali sampah-sampah yang masih berguna untuk penggunaan atau pemrosesan lebih lanjut.
Rendahnya kesadaran dalam pengelolaan sampah dikalangan masyarakat tersebut patut untuk dimaklumi. Pasalnya masih banyak masyarakat yang belum mengetahui jenis-jenis sampah sehingga tidak paham pengelompokannya. Limbah dan sampah dianggap hanya sebagai kotoran yang harus segera dibuang keluar dari rumah sehingga pemisahan jenis-jenis sampah itu menjadi tidak penting.
Ketidaktahuan tersebut bisa jadi karena kurang masifnya sosialisasi serta kurang maksimalnya sistem pengumpulan sampah diwilayah warga.
Setelah penyampaian acara sosialisasi disampaikan oleh kedua narasumber, acara dilanjut dengan praktek langsung oleh peserta bagaimana mengolah sampah organik menjadi kompos, yang disampaikan oleh bapak Laurensius Luky Prasetya.
Dengan melakukan praktek langsung ini memudahkan peserta memahami apa saja yang dilakukan dalam membuat kompos secara benar.
Ibu Dewi Yunita Asri, Ketua Kelompok PKK RT 08 RW 06 Kelurahan Tlogosari Kulon kepada awak media mengatakan sangat senang dengan diadakan acara Sosialisasi tentang Pengolahan Sampah dan Komposing, semoga kegiatan seperti ini terus dilakukan agar semakin banyak masyarakat yang pada senang dengan lingkungan. Ibu Dewi menyampaikan terima kasih kepada Dikti dan Universitas Semarang yang telah membantu di wilayah RT 08 RW 06 dalam meningkatkan kepedulian lingkungan.
Dengan adanya kegiatan ini Tanti Kusnadi Peserta Sosialisasi ini merasa lebih tau lagi bagaimana caranya komposing dan mengolah sampah dengan benar, tak lupa Tanti mengucapkan terima kasih kepada Dikti dan Universitas Semarang yang telah mengadakan acara seperti ini.
Sosialisasi pengelolaan sampah dan pembuatan kompos pun menjadi bagian penting dalam program ini.
Sampah organik diolah menjadi pupuk, sedangkan sampah anorganik bernilai jual dikelola oleh bank sampah. Cara ini terbukti mampu menekan jumlah sampah rumah tangga secara signifikan.
Warga semakin disiplin memilah sampah dari rumah, PKK lebih percaya diri mengolah kompos, dan bank sampah.
(Red)



















