Rembang, Jawa Tengah – 16 April 2026 lensaindependent.com
Kekecewaan warga Desa Mondoteko, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, terhadap kondisi jalan rusak akhirnya diwujudkan dengan aksi nyata. Pada Kamis pagi (16/4/2026) sekitar pukul 09.00 WIB, masyarakat setempat secara swadaya bergotong royong memperbaiki jalan desa menggunakan dana hasil urunan warga.
Perbaikan dilakukan di ruas jalan penghubung Desa Mondoteko menuju Desa Turus yang selama ini menjadi jalur alternatif masyarakat sekaligus akses penting bagi para petani untuk mengangkut hasil panen.
Aksi gotong royong tersebut muncul karena warga merasa penanganan dari instansi terkait, khususnya Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Rembang, belum kunjung terealisasi meskipun keluhan telah beberapa kali disampaikan.
Salah seorang warga di lokasi mengatakan kerusakan jalan sudah berlangsung cukup lama. Menurutnya, jalan tersebut terakhir kali mendapat perbaikan sekitar lima tahun lalu dan sejak saat itu kondisinya terus mengalami kerusakan.
“Jalan ini setiap hari dipakai warga. Petani juga lewat sini saat membawa hasil panen. Kalau hujan turun, lubangnya penuh air seperti kubangan dan sangat membahayakan,” ujar warga.
Koordinator kegiatan warga, As’at, mengaku telah beberapa kali menyampaikan keluhan kepada pihak terkait agar jalan tersebut segera mendapat perhatian.
“Kami pernah diminta bersabar karena katanya sudah masuk rencana anggaran tahun ini. Tetapi sampai sekarang belum ada realisasi, sementara kerusakan semakin parah,” ungkapnya.
Kepala dusun setempat, Zaenal, yang ikut mendampingi kegiatan tersebut menyampaikan apresiasinya terhadap kekompakan warga yang memilih bergerak bersama demi kepentingan lingkungan.
“Warga sepakat bergotong royong karena kalau hanya menunggu, kasihan para petani yang sebentar lagi memasuki masa panen. Ini bentuk kepedulian masyarakat terhadap fasilitas desanya sendiri,” katanya.
Sebelumnya, warga juga sempat menanam pohon pisang di tengah jalan rusak sebagai bentuk protes dan penanda bagi pengguna jalan agar lebih berhati-hati. Namun hingga kini, upaya tersebut dinilai belum mendapat respons perbaikan yang memadai dari pemerintah.
Warga berharap pemerintah daerah dapat lebih serius memperhatikan infrastruktur pedesaan yang langsung berkaitan dengan keselamatan serta aktivitas ekonomi masyarakat.
“Kalau hanya menunggu tanpa kepastian, warga akhirnya terpaksa turun tangan sendiri. Yang penting jalan ini bisa dipakai dengan aman,” tegas As’at.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan maupun klarifikasi resmi dari pihak Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Rembang terkait keluhan warga tersebut.
Red tim



















